Rabu, 29 Oktober 2008

ABUL HASAN ASYADILY "Kehidupan, Doa, dan Hizibnya"

ReviewReviewReviewReviewReviewAbul-Hasan Al-Syadzily, Kehidupan, doa dan hizibnya Feb 21, '08 2:47 AM
for everyone
Category:Books
Genre: Religion & Spirituality
Author:Dr. Abdul Halim Mahmud
Judul lengkap :
Seorang arif pejuang dan arif billah

Penterjamah :
1. Abubakar basymeleh
2. Ibrahim Mansur

Penerbit : Mutiara Ilmu Surabaya
Tebal : 361 halaman

Seseorang sempat berteriak dan "menerkam" buku yang berjejer di perpustakaan pribadi saya ini. Dan berkeras untuk memilikinya. Hmmmm, tidak mengherankan, karena buku ini memuat biografi seorang sufi terkenal pendiri tarekat syadzaliah sekaligus doa dan hijibnya. Saya sudah bisa memperkirakan bahwa hal yang paling menarik baginya adalah hijib-nya.


Orang pesantren mana yang tidak tahu Hizib Bahar. Hizib yang satu ini sangat masyhur. Ia sejajar dengan Hizib Nashr, Hizib Nawawi, Hizib Maghrabi, Suryani dan sederet nama-nama hizib `beken lainnya.

Konon, orang yang mengamalkan Hizib Bahar dengan kontinu, akan mendapat perlindungan dari segala bala. Bahkan, bila ada orang yang bermaksud jahat mau menyatroni rumahnya, ia akan melihat lautan air yang sangat luas. Si penyatron akan melakukan gerak renang layaknya orang yang akan menyelamatkan diri dari daya telan samudera. Bila di waktu malam, ia akan terus melakukan gerak renang sampai pagi tiba dan pemilik rumah menegurnya.

Orang-orang yang tidak percaya dengan hal-hal supranatural, mungkin tidak akan percaya dengan hal itu.Tapi, cerita mengenai keampuhan hizib yang dikarang oleh Syaikh Abu al-Hasan al-Syadzili ini betul-betul masyhur, termasuk cerita tentang lautan yang membentang di tengah-tengah orang yang bermaksud jahat.

Syaikh al-Syadzili, pemilik hizib ini, terkenal sebagai pelopor tarekat al-Syadziliyah. Ia seorang sufi terkenal. Ia juga kesohor sebagai pemilik bacaan-bacaan hizib ampuh, seperti Hizib Nashr dan Hizib Bahar.

Ada backgroung kisah yang amat menarik tentang asal muasal Bahar Syaikh al-Syadzili. Kisah itu ditulis oleh Haji Khalifah, pustakawan terkenal asal Konstantinopel (Istanbul Turki).

Konon, Hizib Bahar ditulis Syaikh Abu al-Hasan al-Syadzili di Laut Merah (Laut Qulzum). Di laut yang membelah Asia dan Afrika itu Syaikh al-Syadzili pernah berlayar menumpang perahu. Di tengah laut tidak angin bertiup, sehingga perahu tidak bisa berlayar selama beberapa hari. Dan, beberapa saat kemudian Syaikh al-Syadzili melihat Rasulullah. Beliau datang membawa kabar gembira (?). Lalu, menuntun Abu al-Hasan al-Syadzili melafadzkan doa-doa. Usai al-Syadzili membaca doa, angin bertiup dan kapal kembali berlayar.

Doa-doa itu kemudian diabadikan oleh al-Syadzili dan diajarkan kepada murid-murid tarekatnya. Dan, kemudian diberi nama Hizb al-Bahr (doa/senjata laut). Disebut Hizb al-Bahr karena doa-doa ini tersebut mempunyai ikatan historis yang sangat erat dengan laut. Juga, al-Syadizili membacanya dalam rangka berdoa agar selamat dalam perjalanan di Laut Merah. Jadi, Hizib Bahar betul-betul wirid yang punya kedekatan tersendiri dengan air, termasuk dalam berbagai cerita mengenai khasiat ampuhnya membuat penjahat terengah-engah di tengah samudera mahaluas.

Dalam kitab Kasyf al-Zhunun `an Asami al-Kutub wa al-Funun, Haji Khalifah juga memuat berbagai jaminan yang diberikan al-Syadzili dengan Hizib Baharnya ini. Di antaranya, menurut Haji Khalifah, al-Syadzili perbah berkata: Seandainya hizibku (Hizib Bahar, Red.) ini dibaca di Baghdad, niscaya daerah itu tidak akan jatuh. Mungkin yang dimaksud al-Syadzili dengan kejatuhan di situ adalah kejatuhan Baghdad ke tangan Tartar.

Bila Hizib Bahar dibaca di sebuah tempat, maka termpat itu akan terhindar dari malapetaka, ujar Syaikh Abu al-Hasan, seperti ditulis Haji Khalifah dalam Kasyf al-Zhunun.

Haji Khalifah juga mengutip komentar ulama-ulama lain tentang Hizib Bahar ini. Ada yang mengatakan, bahwa orang yang istiqamah membaca Hizib Bahar, ia tidak mati terbakar atau tenggelam.

Banyak komentar-komentar, baik dari Syaikh al-Syadzili maupun ulama lain tentang keampuhan Hizib Bahar yang ditulis Haji Khalifah dalam Kasyf al-Zhunun jilid 1 (pada entri kata Hizb). Selain itu, Haji Khalifah juga menyatakan bahwa Hizib Bahar telah disyarahi oleh banyak ulama, diantaranya Syaikh Abu Sulayman al-Syadzili, Syaikh Zarruq, dan Ibnu Sulthan al-Harawi.

-------------

Secara etimologis, hizib memiliki arti wirid, kelompok, senjata dan kumpulan orang (al-Fairuz Abadi dalam al-Qamus al-Muhith: 1/420). Tapi adapula yang mengartikan hizib sebagai amalan rutinitas seseorang. Ibnu Manzhur mengatakan bahwa hizib adalah bacaan atau shalat yang dijadikan semacam wirid untuk dirinya (Lisan al-Arab: 1/308). Menurutnyaa, istilah hizib sudah dikenal semenjak masa Rasulullah. Nabi pernah bersabda: Telah tiba hizibku dari al-Quran, maka aku tidak ingin keluar sehingga aku kerjakan. Juga diriwayatkan dari Aws bin Hudzaifah, bahwa para shahabat sangat biasa membagi (tahzabun) ayat-ayat Qur'an sebagai bacaan rutinnya.

Pada proses berikutnya, hizib menjadi bagian dari tradisi sufi. Ordo sufi yang paling terkenal dengan hizbinya dalah Tarekat Syadzaliyah. Tarekat ini terkenal dengan Hizb al-Bahr, Hizb al-Nashr, al-Hizb al-Kabir dan Hizb al-Hafzhah. Selain itu ada Hizb al-Saifi yang terkenal dalam Tarekat Qadiriyah dan Ahmadiyah Idrisiyah. Hizib-hizib ini ada yang berasal dari ilham, talqin dari Rasulullah, mimpi adapula yang ijazah dari Sayyiduna Ali r.a.

Di lingkungan pesantren, hizib sebagai bagian dari tradisi sufi tidak diejawantahkan secara lengkap. Di kalangan pengikut tarekat, hizib merupakan bagian dari paket mujahadah dan riyadlah yang harus dilakukan untuk mencapai jenjang-jenjang taqarrub yang telah ditargetkan. Tapi, kemudian hizib itu juga diadopsi sebagai materi amalan oleh kalangan non-tarekat karena dianggap memiliki aura yang diyakini dapat menarik ma'unah dari Allah untuk memperoleh daya-daya adikodrati dan kekuatan supranatural yang luar biasa.

Aura supranatural ini memiliki daya tarik luar biasa. Sehingga dapat menarik kalangan non-tarekat untuk juga ikut membaca hizib, meskipun mereka tidak menjadi pengikut tarekat itu. Keluarbiasaan inilah yang menyebabkan hizib mentradisi di kalangan Islam tradisonalis Nusantara.

Dalam konsep teologi Islam, keluarbiasaan (khawariq lil adah) yang diberikan Allah karena pembacaan hizib, doa atau riyadhah dari orang-orang shalih, disebut dengan ma'unah. Selain ma'unah, ada tiga macam daya adikodrati lain yang diberikan Allah, yaitu: mu'jizat (keluarbiasaan para Nabi dan Rasul); karamah (keluarbiasaan para shahabat dan waliyullah); istidraj (keluarbiasaan sihir, tenung dan upaya buruk lainnya).

Namun, khawariq lil adah yang timbul dari doa atau hizib tidak serta merta menjadi ma'unah. Sebab ma'unah setidaknya memiliki tiga kriteria, yaitu materi yang dibaca, cara membaca dan tujuannya tidak bertentangan dengan syariat Islam. Meskipun materi yang dibaca adalah hizib dan caranya tidak betentangan dengan syariat, maka keluarbiasaan yang ditimbulkan bisa menjadi istidraj bila digunakan untuk tujuan yang tidak sesuai dengan ajaran Islam.
-------------
HALAH ternyata benar, hanya tertarik pada hijib-nya. Pada akhirnya saya nasehati orang ini, bahwa sebuah ilmu diamalkan tanpa ilmu, maka ilmu tersebut dapat mencelakakan pemiliknya. Bukankah cerita nabi yang memberikan ilmu menghidupkan kembali tulang, cukuplah menjadi pelajaran ?

Semoga kita cukup bijak dalam membaca buku ini, dan tidak terbawa penyalahgunaan yang dilakukan orang lain. Amin....

Keterangan mengenai tarekat syadzaliyah dapat ditemukan pada pranata luar :
http://www.sufinews.com/print.php?id=1078317685&archive=

Prev: The Wisdom Of Al Tirmidzi
Next: Kitab Al-Hikam (Petuah-petuah agung sang guru)

1 komentar:

Erwin Keren mengatakan...

aswb mas wildan,

Masih punya bukunya

Abul-Hasan Al-Syadzili, Kehidupan,doa dan hizibnya Dr. Abdul Halim Mahmod

kalau ada boleh minta dikopikan, dan dikirmkan ke saya ,nanti saya bayar.

dulu saya punya buku itu tapi hilang dan saya cari2x ditoko buku untuk beli lagi ga ketemu.

saya : erwin. tarekat syadzili juga dari : habib luthfi pekalongan.
email: erwinkeren39@gmail.com